WAYANG DAN MANUSIA
Setiap pengetahuan mempunyai tiga dasar yakni ontology, epistimologi, dan aksiologi. Ontology diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas objek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan. Epistimologi membahas cara untuk mendapatkan pengetahuan. Aksiologi dalam kegiatan keilmuan disebut sebagai teori yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan yang diperoleh. (Jujun S. Suriasumantri. 1987: 234-236)
Ungkapan tradisional seperti : Sing bacik ketitik sing ala ketara, andhap asor wani ngalah luhur wakasane, titenana wong cidera mangsal langgenga, sura dira jaya ningrat lebur dening pangastuti, menunukan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijungjung tinggi dalam budaya Jawa.
Sosok bima yang penuh dengan landasan moral itu mengingatkan pada epitaph di makam Imanuel Kant: celum stellatum supra melex moralitas intra me begitu cemerlangnya bintang-bintang diangkasa raya, demikian norma susila didada manusia.
Pertunjukan wayang banyak mengandung unsure moral yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Wayang dipandang sebagai suatu keseneian tradisional dengan multi pungsi dan dimensi, yang merupakan sebuah ensikolopedia hidup, tentang prilaku kehidupan manusia yang banyak mengandung filsafat dan ajaran kerohanian. Dalam hal ini wayang sangat cocok untuk menyampaikan pendidikan humaniora (Sri Mulyono, 1989: 91).
PENGERTIAN TENTANG MANUSIA
Manusia itu merupakan suatu problem, suatu persoalan bagi dirinya sendiri, atau lebih tepat sebagai sebuah rahasia besar dan suci. Rahasia yang menakutkan, tetapi juga rahasia yang menarik, rahasia yang mengajak supaya menyelidikinya. Oleh sebab itu sejak zaman dahulu manusia sudah menyelidiki dirinya sendiri (Driyarkara, 1978: 86).
Menurut vGabriel Marcel memang perlu diakui bahwa manusia bukanlah suatu problem yang akan habis dipecahkan, melainkan sebuah misteri yang tidak mungkin disebutkan sifat dan cirinyasecara tuntas. Oleh karena itu harus dipahami dan dihayati (Soeryanto Poespowardoyo dan K. Bertens, 1982: 1). Filsafat estinsealisme memandang manusia sebagai terbuk. Manusia adalah realtas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk (Harun Hadiwiyono, 1980: 149). Filsafat manusia adalah cabang dari filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia (Louis Leahy, 1992: 1).
Pada zaman dahulu filsafat adalah soal hidup atau mati. Filsafat merupakan jiwa yang mencari keselamatan. Persoalan hidup, termasuk manusia, menjadi perenungan dan perbincangan sehari-hari, sehingga filsafat seperti yang dikatakan Tittus (1984: 11) juga berarti sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.